Ketum Perkumpulan Kekerabatan Sulawesi Selatan (PKSS) Achmad Rosano Apresiasi Pertukaran Budaya dan Seni Miao-Tujia dan Indonesia yang Digagas INTI Kepri: Momen Penuh Makna di Tengah Keberagaman
Strighttimes — Ketua Umum Perkumpulan Kekerabatan Sulawesi Selatan, Achmad Rosano, memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Pertukaran seni dan Budaya Miao-Tujia dan Indonesia yang digelar di Batam. Ia menilai acara yang digagas Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Kepri ini menjadi wadah penting untuk membangun jembatan budaya antara dua bangsa yang berbeda, namun memiliki semangat yang sama dalam merawat keberagaman.
“Acara seperti ini perlu dikembangkan secara berkesinambungan karena membawa nilai edukatif dan mempererat persaudaraan lintas budaya. Saya sangat menghargai inisiatif INTI Kepri dalam menghadirkan warisan budaya dari dua negara ke tengah masyarakat,” ujar Achmad Rosano Kamis (24/7/2025).
Achmad Rosano menilai bahwa kerja sama lintas budaya seperti yang dilakukan dalam pameran ini menjadi contoh konkret bagaimana seni dan tradisi bisa menjadi jembatan perdamaian. Ia menekankan bahwa di tengah dunia yang semakin terhubung, dialog kebudayaan harus terus didorong agar masyarakat semakin terbuka terhadap nilai-nilai universal seperti toleransi, saling menghargai, dan kerja sama antarbangsa.
“Indonesia dan Tiongkok memiliki sejarah panjang hubungan antarwarga yang saling menghormati. Melalui pameran budaya ini, kita tidak hanya memperkuat akar budaya lokal, tetapi juga membangun rasa saling percaya yang lebih dalam antarwarga negara,” ujarnya. Ia berharap pameran serupa dapat menjadi agenda rutin, tidak hanya di Batam, tetapi juga di kota-kota lain di Indonesia.
Sebagai tokoh masyarakat asal Sulawesi Selatan yang berdomisili di Kota Batam yang juga aktif dalam kegiatan kebudayaan, Achmad Rosano menggarisbawahi pentingnya menjadikan kebudayaan sebagai instrumen pembangunan karakter bangsa.
Menurutnya, momen ini menjadi pengingat pentingnya menjaga dan menghargai keberagaman budaya satu sama lain sebagai kekayaan bangsa. Keberagaman adalah aset yang tidak ternilai, yang harus dijaga dan dirawat secara bersama-sama.
Kehadiran budaya Miao-Tujia dari Tiongkok di tengah masyarakat Batam menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia terbuka terhadap kerja sama lintas budaya. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa interaksi antarbudaya dapat menjadi jembatan yang memperkuat semangat toleransi, saling menghormati, dan hidup berdampingan dalam damai.
“Budaya adalah warisan leluhur yang wajib kita jaga, rawat, dan lestarikan lintas generasi. Ungkapnya lagi, melalui budaya, kita belajar memahami satu sama lain, tanpa kehilangan jati diri. Penting bagi generasi muda untuk menyadari bahwa budaya bukan sekadar tontonan, melainkan warisan nilai, filosofi hidup, dan cara pandang yang bisa memperkaya kehidupan bersama,” katanya.
Pameran yang berlangsung di Atrium Megamall Batam Center selama tiga hari, 1–3 Agustus 2025, ini terbuka untuk umum. Acara menampilkan berbagai seni budaya etnis minoritas Miao dan Tujia dari Tiongkok, serta kekayaan budaya Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Pertunjukan tarian, seni musik tradisional, hingga pelatihan kaligrafi dan permainan rakyat menjadi bagian dari rangkaian acara yang berlangsung dari pukul 13.30 hingga 17.30 WIB.
Ketua INTI Kepri, Piter Tanjaya, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya sekadar pertunjukan seni, tetapi menjadi ruang interaktif yang mengedepankan dialog budaya. “Pertukaran budaya seperti ini adalah bagian dari diplomasi sosial yang berdampak jangka panjang. Kita tidak hanya menonton budaya bangsa lain, tetapi belajar menghargainya. Seperti mereka juga belajar menghormati budaya kita,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa Batam sebagai kota lintas batas dengan posisi strategis sangat ideal menjadi tuan rumah kegiatan berskala internasional. Pameran ini juga menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk mencintai kebudayaan nusantara sekaligus terbuka terhadap budaya dunia. “Inilah kekuatan budaya menyatukan, bukan memisahkan,” ucap Piter.

