Ketua IKABSU Kepri Jhonson Sibuea: Kebudayaan adalah Nafas Persatuan, Apresiasi Pertukaran Seni dan Budaya Miao-Tujia dan Indonesia yang Digagas INTI Kepri
StrighTimes – Pameran Budaya Miao-Tujia dan Indonesia akan digelar di Atrium Megamall Batam Center selama tiga hari, mulai 1 hingga 3 Agustus 2025. Acara ini terbuka untuk masyarakat umum dan dirancang sebagai ruang interaktif untuk belajar dan saling mengenal budaya kedua negara.
Ketua Ikatan Keluarga Besar Sumatera Utara (IKABSU) Provinsi Kepri, Jhonson Sibuea, menyambut hangat gelaran pertukaran budaya antara Indonesia dan Tiongkok yang digagas oleh Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Kepri. Ia menilai, acara yang mempertemukan kebudayaan Miao-Tujia dan ragam seni tradisional Nusantara ini adalah bentuk diplomasi yang paling menyentuh hati.
“Sebagai anak bangsa, yang lahir dari kekayaan budaya Sumatera Utara, saya percaya bahwa budaya adalah nafas persatuan. Apa yang dilakukan INTI Kepri ini luar biasa, bukan hanya mempertontonkan seni, tapi menghidupkan semangat saling memahami dan saling menghargai ” ujar Jhonson, Jumat (25/07/2025).
Menurut Jhonson, ragam budaya yang ditampilkan dalam acara nanti mencerminkan wajah sejati Indonesia, negeri yang terdiri dari ribuan pulau, bahasa, dan tradisi, namun tetap satu dalam semangat kebersamaan. Ia secara khusus mengapresiasi penampilan seni Batak, Dayak, dan Larantuka, yang menurutnya menjadi ruang ekspresi kebanggaan identitas lokal di panggung global.
“Saya bangga melihat budaya tarian Batak tampil sejajar dengan budaya Tiongkok. Kita bukan bangsa kecil, kita bangsa besar yang harus berani tampil dengan keunikan kita,” ungkapnya
Bagi Jhonson, kegiatan pertukaran budaya ini lebih dari sekadar pertunjukan. Ia menyebutnya sebagai “proses saling membuka hati dan pikiran.” Ia meyakini bahwa melalui perjumpaan budaya, manusia bisa lebih mudah memahami satu sama lain, tanpa dinding pemisah.
“Seni dan Budaya menyentuh hal yang paling dalam dari diri manusia, rasa, nilai, dan warisan. Maka ketika dua budaya berbeda tampil bersama, itu bukan hanya pertunjukan, tapi juga pertemuan antarhati,” jelasnya.
Ia juga memuji ruang interaktif yang disediakan dalam acara nantinya. Saat anak-anak diajak mencoba kaligrafi Tiongkok, meniup daun, dan berdialog dengan pelajar dari luar negeri, Jhonson melihat itu sebagai bentuk pembelajaran paling nyata.
Tak hanya memberi apresiasi, Jhonson juga menitipkan harapan besar. Ia mendorong agar kegiatan serupa bisa digelar secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak komunitas budaya lokal. Menurutnya, semakin sering generasi muda terpapar dengan keragaman budaya, semakin kuat pula identitas kebangsaan mereka.
“Anak-anak kita butuh ruang seperti ini untuk mengenal dunia, tapi dengan tetap mencintai budaya asalnya. Jangan biarkan mereka tumbuh tanpa mengenal akar mereka sendiri,” pesannya.
Jhonson pun menilai Batam sebagai tempat yang sangat strategis untuk pertukaran budaya antarnegara. Kota ini memiliki dinamika multietnik yang sudah lama menjadi contoh toleransi dan keragaman yang harmonis.
Terakhir, Jhonson mengajak masyarakat Batam, khususnya warga Sumatera Utara yang berdomisili di Kepri, untuk hadir dan meramaikan acara ini.
“Mari kita jadikan momen ini sebagai ruang kebersamaan. Datanglah bersama keluarga. Tonton pertunjukannya, rasakan pesannya. Karena dari seni dan budaya, kita belajar menjadi manusia yang lebih terbuka, lebih bijaksana,” pungkasnya.
Sebagai Negara yang beraneka ragam Budaya, Pertunjukan Tarian-Tarian Nusantara juga turut ditampilkan dalam 3 (Tiga) hari tersebut, antara lain :
- Tarian Adat Melayu
- Tarian Adat Larantuka
- Tarian Batak
- Tarian Dayak
- Tarian Wonderful Indonesia
- Medley Nusantara
- Nyanyian Lagu Daerah
- Fashion Show Baju Adat Daerah
- Pameran dan Perkenalan Aneka Kuliner Daerah
- Alat-alat Musik Tradisional Daerah
- Pantun, Puisi, Gurindam Dua Belas
- Pertunjukan Barongsai
- Penampilan Lagu Wajib Nasional & Lagu Mandarin

