Tokoh Muda Karo Herry Sembiring Dukung Pembangunan Gedung Adat dan Rumah Duka Representatif di Batam, Harapan Besar Masyarakat Batak Kian Menguat
StrightTimes – Dukungan terhadap rencana pembangunan Sopo Godang atau gedung serbaguna yang dapat digunakan sebagai pusat kegiatan adat sekaligus rumah duka representatif bagi masyarakat asal Sumatera Utara di Kota Batam terus mengalir dari berbagai kalangan. Salah satu dukungan datang dari tokoh muda asal Karo, Sumatera Utara, yang telah lama berkecimpung di dunia media, Herry Sembiring.
Menurut Herry, keberadaan gedung adat dan rumah duka yang layak serta representatif sudah menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat Batak yang bermukim di Batam. Selama ini, tidak sedikit warga yang mengalami kesulitan dalam mencari tempat yang memadai untuk melaksanakan pesta adat maupun kegiatan kedukaan yang merupakan bagian penting dari tradisi dan budaya Batak.
“Kami melihat adanya kerinduan yang sangat besar dari masyarakat Batak asal Sumatera Utara terhadap hadirnya sarana dan prasarana yang dapat mendukung pelaksanaan kegiatan adat dan sosial kemasyarakatan di Batam. Karena itu, kami tentu mendukung penuh upaya mewujudkan fasilitas tersebut,” ujar Herry Sembiring, Jumat 22 Mei 2026
Ia menilai, keinginan masyarakat untuk memiliki gedung adat dan rumah duka yang representatif tidak boleh berhenti sebatas wacana. Menurutnya, seluruh elemen masyarakat Batak perlu bersama-sama mengawal dan memperjuangkan agar cita-cita tersebut dapat diwujudkan demi kepentingan generasi saat ini maupun masa mendatang.
Herry juga mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi yang diterimanya, komunitas Batak melalui salah satu organisasi masyarakat sebelumnya pernah memperoleh alokasi lahan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan fasilitas tersebut.
“Terkait lahan untuk pembangunan gedung adat dan rumah duka, kami memperoleh informasi bahwa komunitas Batak melalui salah satu organisasi masyarakat sebelumnya pernah mendapatkan alokasi lahan. Ini tentu menjadi modal awal yang sangat baik untuk melanjutkan rencana pembangunan tersebut,” katanya.
Lebih lanjut, Herry berharap seluruh tokoh Batak di Batam dapat mengesampingkan perbedaan dan duduk bersama guna menyamakan visi serta langkah dalam mewujudkan fasilitas yang selama ini menjadi harapan masyarakat.
“Kami berharap seluruh tokoh Batak yang ada di Batam dapat duduk bersama, menyatukan persepsi, dan membangun komitmen bersama agar fasilitas ini benar-benar dapat terwujud serta memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan gedung adat dan rumah duka bukan hanya sekadar bangunan fisik, tetapi juga simbol persatuan, pelestarian budaya, serta bentuk kepedulian terhadap kebutuhan sosial masyarakat Batak di perantauan.
“Warga membutuhkan gedung adat dan rumah duka untuk membantu pelaksanaan pesta adat maupun acara kedukaan. Oleh karena itu, kami berharap para orang tua, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen Batak dapat bersama-sama membahas serta memperjuangkan pembangunan gedung adat dan rumah duka di lahan yang telah dimohonkan oleh ISENABASA,” pungkas Herry.
Dukungan yang terus bermunculan dari berbagai tokoh masyarakat menunjukkan bahwa kehadiran gedung adat dan rumah duka representatif bagi warga Sumatera Utara di Batam bukan sekadar kebutuhan fasilitas, melainkan juga harapan bersama untuk menjaga identitas budaya, mempererat persaudaraan, dan memperkuat nilai gotong royong di tengah kehidupan masyarakat perantauan.

