Tragedi Setokok, Tokoh-Tokoh Indonesia Timur di Batam Serukan Kedamaian: Lebih 30 Tahun Menjadi Bagian dari Kota Ini, Batam Adalah Rumah Bersama, Jangan Biarkan Luka dan Perselisihan Memecah Persaudaraan
StrightTimes — Tragedi bentrokan yang terjadi di kawasan Pulau Setokok, Kecamatan Bulang, Kota Batam, yang mengakibatkan dua orang meninggal dunia dan tujuh lainnya mengalami luka-luka, meninggalkan keprihatinan mendalam di tengah masyarakat.
Peristiwa yang terjadi pada Senin, 14 September 2026 tersebut tidak hanya menyisakan persoalan hukum, tetapi juga meninggalkan duka bagi keluarga korban serta kekhawatiran di tengah masyarakat agar persoalan yang terjadi tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
Di tengah situasi tersebut, sejumlah tokoh masyarakat Indonesia Timur di Batam berkumpul, Selasa (29/06/2026) di A2 Foodcourt untuk menyampaikan pesan yang sama tak lain menahan diri, menjaga persaudaraan dan mempercayakan seluruh proses hukum kepada aparat penegak hukum.
Bagi mereka yang telah puluhan tahun tinggal di Batam telah menjadi tempat mencari kehidupan, membangun keluarga, bekerja, berusaha dan membesarkan anak-anak.
Lebih dari tiga dekade hidup berdampingan dengan masyarakat dari berbagai suku, agama dan latar belakang, membuat mereka memandang Batam sebagai rumah yang dibangun bersama.
Simon Payung Masan, tokoh masyarakat NTT sekaligus salah satu pendiri perkumpulan Indonesia Timur di Batam, mengawali seruan agar seluruh masyarakat tidak terpancing dan tidak memperbesar persoalan yang saat ini sedang ditangani aparat penegak hukum.
Menurut Simon, tragedi tersebut harus dilihat dengan hati yang dingin dan kepala yang jernih. Ada keluarga yang kehilangan orang yang mereka cintai, ada korban yang masih menjalani perawatan, dan ada masyarakat yang tentu berharap keamanan kembali terasa di lingkungan mereka.
“Kita semua tentu prihatin dengan apa yang terjadi. Ada saudara kita yang meninggal, ada yang terluka. Ini adalah persoalan kemanusiaan. Karena itu, mari kita sama-sama menahan diri dan jangan sampai persoalan ini berkembang menjadi persoalan baru,” ujar Simon.
Ia mengatakan, proses hukum harus diberikan ruang untuk berjalan. Polisi telah melakukan penyidikan dan berdasarkan keterangan resmi Polresta Barelang, penyidik menangani dua laporan polisi terkait rangkaian peristiwa tersebut serta telah menetapkan dua orang sebagai tersangka sedangkan Polda Kepri menetapkan tiga tersangka setelah memeriksa sejumlah saksi.
Simon berharap proses hukum dilakukan secara profesional, transparan dan berdasarkan fakta serta alat bukti yang ditemukan penyidik.
“Kalau soal kepolisian, sudah kita percayakan secara profesional. Termasuk pemeriksaan, otopsi dan uji balistik, semuanya merupakan bagian dari proses penyidikan. Kita berharap semua dilakukan secara profesional sehingga masyarakat mendapatkan kejelasan berdasarkan fakta,” katanya.
Bagi Simon, yang paling penting saat ini bukan mencari siapa yang paling keras berbicara, melainkan bagaimana seluruh pihak dapat menjaga agar suasana Batam tidak semakin panas dan tetap kondusif
“Jangan ada lagi yang memperkeruh suasana. Jangan ada pihak yang mencoba memanfaatkan keadaan. Kita percayakan persoalan hukum kepada aparat. Masyarakat cukup menjaga keamanan dan kedamaian di lingkungan masing-masing,” ujarnya.
Pesan kemanusiaan itu kemudian dilanjutkan Jamsir, ST, tokoh masyarakat Indonesia Timur di Batam.
Jamsir mengatakan, masyarakat Indonesia Timur yang telah lebih dari 30 tahun hidup dan menetap di Batam sudah menjadi bagian dari perjalanan panjang kota ini.
Datang dari berbagai daerah, membawa harapan untuk kehidupan yang lebih baik, kemudian bekerja, berkeluarga dan membangun masa depan di Batam, membuat hubungan masyarakat Indonesia Timur dengan kota ini tidak lagi sekadar hubungan antara tempat tinggal dan penghuninya.
“Sebagai bagian dari komunitas Indonesia Timur yang sudah lebih dari 30 tahun berdomisili di Batam, kita sudah merasa bahwa Batam ini milik kita semua. Kita hidup di sini, mencari makan di sini, membangun keluarga di sini, anak-anak kita tumbuh di sini. Karena itu, Batam harus kita jaga bersama-sama,” ujar Jamsir.
Menurutnya, Batam merupakan kota yang dibangun oleh banyak tangan dan banyak latar belakang. Ada masyarakat Melayu, Jawa, Batak, Minang, Bugis, Ambon, Flores, Timor, Papua, Tionghoa dan berbagai kelompok masyarakat lainnya yang selama puluhan tahun hidup berdampingan di Batam.
Perbedaan tersebut, kata Jamsir, seharusnya menjadi kekuatan, bukan alasan untuk saling berhadapan.
“Kita semua datang dari daerah yang berbeda, tetapi ketika sudah tinggal di Batam, kita adalah satu masyarakat. Kita sama-sama punya rumah. Rumah itu namanya Batam. Kalau rumah kita sendiri yang rusak, siapa yang akan rugi? Kita semua.”
Karena itu, Jamsir mengajak masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya, termasuk narasi yang dapat memancing kemarahan atau memperuncing perbedaan kelompok.
Ia meminta setiap persoalan hukum diserahkan kepada lembaga yang memiliki kewenangan.
“Kalau ada persoalan hukum, biarkan hukum yang berbicara. Kalau ada yang salah, proses sesuai aturan. Jangan masyarakat mengambil tindakan sendiri. Jangan sampai satu persoalan melahirkan persoalan lainnya,” katanya.
“Kami berharap kepolisian dan pemerintah, termasuk BP Batam, bersama-sama menjaga kondusivitas Kota Batam. Kami ingin persoalan ini diselesaikan secara cepat, profesional termasuk uji balestik profesional berdasarkan fakta serta ketentuan hukum yang berlaku,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa keamanan Batam bukan hanya kepentingan pemerintah atau aparat, tetapi kepentingan seluruh masyarakat.
Batam merupakan tempat jutaan harapan bertemu. Di kota ini masyarakat bekerja, berdagang, membangun usaha, menghidupi keluarga dan menggantungkan masa depan anak-anak mereka. Karena itu, setiap persoalan yang berpotensi mengganggu ketenteraman masyarakat harus disikapi secara bijaksana.
“Jangan karena persoalan satu tempat, kemudian kita kehilangan rasa persaudaraan. Jangan karena perbedaan kepentingan, kita lupa bahwa kita hidup berdampingan. Banyak keluarga yang hanya ingin bekerja, mencari nafkah dan pulang ke rumah dengan aman. Itu yang harus kita jaga.”, serunya
Jamsir menegaskan, masyarakat Indonesia Timur tidak datang ke Batam untuk mencari pertentangan. Sebaliknya, mereka datang membawa harapan untuk hidup berdampingan, bekerja dan menjadi bagian dari pembangunan kota.
“Kami sudah lebih dari 30 tahun di Batam. Banyak suka dan duka yang kami lalui di sini. Kami tidak ingin Batam menjadi tempat yang membuat masyarakat takut satu sama lain. Kami ingin Batam tetap menjadi rumah tempat kita semua hidup dengan damai.” katanya
Menurut Jamsir, tidak ada kemenangan ketika sebuah perselisihan berakhir dengan jatuhnya korban jiwa. Yang tersisa hanyalah duka, luka dan pertanyaan panjang dari keluarga yang ditinggalkan.
“Tidak ada keluarga yang menang ketika ada nyawa yang hilang. Yang ada adalah duka. Karena itu, mari kita hentikan segala bentuk provokasi. Mari kita serahkan proses hukum kepada aparat dan kita jaga Batam bersama-sama.”, jelasnya
Ia berharap tragedi Setokok menjadi pembelajaran bagi seluruh masyarakat agar setiap persoalan dapat diselesaikan melalui jalur komunikasi, musyawarah dan hukum, bukan melalui kekerasan.
“Batam ini rumah kita bersama. Kita boleh berbeda suku, agama, daerah asal maupun latar belakang. Tetapi ketika kita sudah hidup di tanah Batam, kita adalah saudara sebagai sesama masyarakat Batam. Jangan biarkan persoalan sesaat merusak persaudaraan yang sudah kita bangun selama puluhan tahun.”
Para tokoh masyarakat Indonesia Timur tersebut berharap masyarakat tetap tenang, menghormati proses hukum dan tidak memberikan ruang bagi pihak-pihak yang ingin memperbesar persoalan.
Mereka juga berharap seluruh elemen masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, pemuda serta para pelaku usaha dapat bersama-sama menjaga suasana Batam tetap aman dan kondusif.
Sebab pada akhirnya, Batam bukan hanya tentang gedung-gedung tinggi, kawasan industri, investasi dan pertumbuhan ekonomi. Batam juga tentang manusia yang hidup di dalamnya.
Tentang keluarga yang setiap pagi berangkat bekerja, anak-anak yang pergi ke sekolah, pedagang yang membuka lapak, pekerja yang mencari nafkah dan para perantau yang puluhan tahun menggantungkan harapan hidupnya di kota ini.
Dan bagi masyarakat Indonesia Timur yang telah lebih dari 30 tahun menjadi bagian dari Batam, pesan mereka sederhana, Batam adalah rumah bersama. Maka rumah itu harus dijaga bersama-sama.

