Suara Hati Gordon Silalahi dari Balik Jeruji Rutan Batam: “Kalau Saya Ada Niat Jahat…”
StrightTimes – Dari balik jeruji besi Rutan Batam, wartawan senior Gordon Hassler Silalahi menyampaikan suara hati yang getir namun penuh keyakinan. Ia merasa perjuangannya menuntut hak nya justru dipelintir menjadi tuduhan pidana yang merenggut kebebasannya.
“Kalau saya ada niat jahat, dari awal saya sudah minta separuh atau seperempat dari uang jasa Rp30 juta yang dijanjikan. Tapi jangankan itu, meminta uang operasional pun saya tidak pernah kepada pelapor Ikhwan,” ungkap Gordon.
Selama enam bulan, Gordon mengaku bekerja keras memperjuangkan percepatan pemasangan jaringan air bersih ke PT Nusa Cipta Propertindo. Hampir setiap hari ia menghubungi Yuyun, salah seorang saksi dari SPAM Batam.
Dalam persidangan, Yuyun membenarkan intensitas komunikasi tersebut. “Setiap hari Gordon menghubungi saya demi percepatan pemasangan. Jujur, saya sampai muak, karena hari Sabtu dan Minggu pun dia tetap menelepon,” ungkap Yuyun di hadapan majelis hakim.
Namun, setelah enam bulan kerja RAB dan Faktur keluar, Gordon baru menagih uang jasa sesuai kesepakatan Rp30 juta. Ironisnya, yang diterimanya hanya Rp20 juta. Jika dibandingkan dengan UMR Batam, enam bulan kerja penuh yang ia curahkan tak sebanding dengan hasil yang ia terima. Dari titik inilah persoalan bermula. Bukan keadilan atas haknya yang didapat, melainkan jerat hukum yang menyeretnya ke kursi pesakitan.
“Saya menagih uang jasa setelah RAB dan faktur keluar selama enam bulan saya bekerja, bukan dari awal. Saya tidak pernah minta uang operasional, seperti untuk uang kopi, uang bensin, uang rokok selama saya mengurus. Semua saya tanggung pribadi. Kalau dari awal saya minta berarti saya ada niat jahat. Saya hanya menuntut hak saya. Itu saja, ” jelas Gordon
Di tengah pahitnya keterasingan di Rutan Batam, Gordon tetap menyimpan rasa terima kasih. “Saya berterima kasih kepada rekan-rekan yang selalu hadir memberi semangat di setiap persidangan. Terutama kepada sosok yang telah saya anggap sebagai orang tua saya sendiri, Bapak Moody Arnold Timisela. Saya mengenal beliau, sebelum saya pandai memakai celana, karena rumah kami berdekatan, terimaksih yang sedalam-dalamnya say sampaikan buat Bapak Moody. Dan Terima kasih dari lubuk hati terdalam, juga kepada seluruh solidaritas termasuk kawan-kawan wartawan yang tak pernah lelah menyuarakan kebenaran untuk saya.
Gordon juga menegaskan, keterlambatan pemasangan air ke perusahaan tersebut sama sekali bukan wewenangnya. Hal ini pun terungkap dalam persidangan melalui kesaksian Yuyun, yang menjelaskan bahwa kendala terjadi akibat masa transisi manajemen dari PT Moya ke ABHI.
“Bukan saya yang bisa memerintahkan percepatan. Itu bukan domain saya. Saya hanya perantara yang bekerja sesuai kesepakatan. Yang saya minta hanyalah keadilan, dan pengakuan atas enam bulan kerja saya,” tuturnya.
Suara hati Gordon kini menggema dari balik tembok dingin Rutan Batam. Ia merasa sedang menanggung beban kriminalisasi, namun tetap menggenggam satu harapan: keadilan yang sesungguhnya. (Oki)

