Pasca Insiden Parkir di Batam Center, Tokoh Masyarakat Indonesia Timur Imbau Hentikan Isu SARA,Tegaskan Perbedaan Adalah Anugerah dan Apresiasi Polda Kepri Serta Polresta Barelang dalam Menjaga Batam Tetap Aman dan Kondusif
StrightTimes -Tokoh masyarakat Indonesia Timur sekaligus Pendiri Rumpun Melanesia Bersatu (RMB), Moody Arnold Timisela, angkat bicara terkait insiden pemukulan yang terjadi di kawasan Batam Center, tepatnya di area Pasir Putih, beberapa waktu lalu. Ia menegaskan pentingnya menjaga kondusivitas Kota Batam serta meminta seluruh pihak menghentikan penyebaran isu-isu bernuansa SARA yang berpotensi memecah belah persatuan masyarakat.
Peristiwa tersebut bermula dari adanya kesalahpahaman antara petugas keamanan (security) pengelola kawasan dengan seorang juru parkir yang disebut-sebut telah mengantongi izin dari Dinas Perhubungan Kota Batam. Kesalahpahaman itu kemudian berujung pada tindakan kekerasan berupa pemukulan oleh oknum petugas keamanan terhadap juru parkir.
Menanggapi kejadian tersebut, Moody menyampaikan keprihatinan dan penyesalannya atas terjadinya tindak kekerasan. Ia menegaskan bahwa segala bentuk kekerasan tidak dapat dibenarkan dan harus diselesaikan melalui jalur hukum yang berlaku.
Moody menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada jajaran Kepolisian, khususnya Direktorat Intelkam Polda Kepri, jajaran Intelkam Polresta Barelang, Kapolda Kepri Irjen Pol. Asep Safrudin, S.I.K., M.H., serta Kapolresta Barelang Kombes Pol. Anggoro Wicaksono, S.H., S.I.K., M.H., yang telah bergerak cepat, profesional, dan berintegritas dalam menangani perkara tersebut. Menurutnya, langkah penegakan hukum yang dilakukan tidak hanya tegas dan terukur sesuai ketentuan yang berlaku, tetapi juga mengedepankan prinsip kehati-hatian serta pendekatan yang mampu menangkal berkembangnya isu-isu bernuansa SARA, sehingga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di Kota Batam tetap terjaga aman dan kondusif, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi Kepolisian.
“Kita percayakan sepenuhnya proses penegakan hukum kepada aparat kepolisian. Polisi telah bekerja dengan sangat baik dan bertanggung jawab dalam menciptakan suasana yang kondusif, sehingga tidak memberi ruang bagi oknum-oknum tertentu yang mencoba menggiring persoalan ini ke arah isu SARA,” ujar Moody. Kamis (29/01/2025).
Seiring dengan beredarnya berbagai narasi di media sosial pasca-kejadian tersebut, Moody mengimbau seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, LSM, tokoh agama, dan tokoh masyarakat, agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang belum tentu benar dan berpotensi memecah belah.
Dalam pernyataannya, Moody menegaskan bahwa perbedaan adalah sebuah anugerah yang harus dipandang sebagai kekuatan, bukan sebagai sumber konflik. Menurutnya, keberagaman suku, agama, dan budaya yang ada di Kota Batam merupakan karunia Tuhan yang patut disyukuri dan dijaga bersama.
“Perbedaan ini adalah anugerah. Justru karena perbedaan itulah kita belajar saling menghormati, saling memahami, dan saling melengkapi. Keberagaman yang ada di Batam selama ini telah menjadi fondasi kuat dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis,” katanya.
Ia menambahkan, apabila perbedaan dikelola dengan baik dan dilandasi rasa saling menghargai, maka perbedaan tersebut akan menjadi energi positif bagi kemajuan daerah. Namun sebaliknya, jika perbedaan dipelintir dan diprovokasi menjadi isu SARA, maka hal itu hanya akan melahirkan konflik dan merugikan semua pihak.
“Ketika perbedaan dijadikan alat provokasi, yang rugi bukan satu kelompok, tetapi seluruh warga Batam. Situasi yang tidak kondusif akan berdampak langsung pada iklim investasi, pertumbuhan ekonomi, dan terbukanya lapangan pekerjaan,” tegasnya.
Moody juga secara khusus meminta agar istilah-istilah yang bernuansa pengelompokan, seperti kata “pendatang”, tidak lagi digunakan dalam ruang publik. Ia menilai istilah tersebut dapat menimbulkan kesan diskriminatif dan mencederai semangat persatuan.
“Saya berasal dari suku Ambon, tetapi saya adalah warga Batam. Saya berkeluarga, beranak-pinak, dan memiliki cucu di Kota Batam. Saya tidak pernah mempersoalkan perbedaan, karena Batam adalah rumah kita bersama,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Moody kembali mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga persatuan, menghentikan penyebaran isu SARA, serta bergandeng tangan membangun Batam sebagai kota yang aman, damai, dan inklusif.
Sebagai rumah bersama, sambung Moody, Batam menuntut komitmen seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat toleransi dan persatuan. Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, menjadi pengingat bahwa setiap insan wajib menghormati nilai, adat, dan keberagaman yang hidup di tengah masyarakat Batam. Tidak ada ruang bagi sekat-sekat yang memecah belah, karena kemajuan daerah hanya dapat dicapai melalui semangat gotong royong dan persaudaraan. Dengan menjunjung nilai kebhinekaan dan kebijaksanaan, Batam akan terus tumbuh sebagai kota yang aman, inklusif, dan berkeadilan bagi semua. Merdeka.
“Mari kita rawat keberagaman ini dengan bijak. Batam adalah rumah kita bersama, tanpa sekat dan tanpa perbedaan, Merdeka” tutupnya .

