Rocky Marciano Bawole Kembali Pimpin PKB Kepri, Ketua AMI Kepri Nilai Konsolidasi Internal Kian Menguat dan Berpotensi Menggeser Peta Kekuatan Politik Daerah ke Depan
StrightTimes – Penetapan struktur baru Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Kepulauan Riau untuk masa bakti 2026–2031 menegaskan arah politik partai di daerah. Rocky Marciano Bawole, S.Sos. kembali dipercaya memimpin DPW PKB Kepulauan Riau untuk periode kedua sebuah keputusan yang dinilai langkah strategis mengamankan stabilitas dan konsolidasi kekuatan politik PKB di Kepri.
Dalam struktur kepengurusan tersebut, Rocky akan didampingi Aman, S.Pd., M.M. sebagai Sekretaris dan Suigwan, S.M. selaku Bendahara. Formasi ini dipandang sebagai upaya memperkuat kendali organisasi sekaligus memastikan kesinambungan arah politik partai menjelang dinamika kontestasi elektoral ke depan.
Ketua Anak Muda Indonesia (AMI) Kepulauan Riau, Kurnia Fajrison, menilai penunjukan kembali Rocky Marciano Bawole mengandung pesan politik yang kuat. Menurutnya, keputusan ini mencerminkan kepercayaan penuh partai terhadap figur yang dinilai mampu menjaga soliditas internal sekaligus meningkatkan daya tawar PKB dalam peta politik Kepulauan Riau.
“Periode kedua ini menunjukkan PKB Kepri memilih stabilitas kepemimpinan dibandingkan eksperimen politik. Ini sinyal bahwa partai sedang menyiapkan langkah jangka menengah hingga panjang, termasuk menghadapi agenda politik nasional dan daerah,” ujarnya.
Ia menyebut, selama periode pertama, Rocky berhasil membangun konsolidasi internal yang relatif solid serta memperluas jejaring komunikasi politik dengan berbagai elemen masyarakat. Modal tersebut dinilai krusial dalam memperkuat posisi PKB, baik dalam relasi antarpantai politik maupun dalam proses perumusan kebijakan publik di daerah.
Menurut Kurnia, kepemimpinan Rocky yang dikenal komunikatif dan terbuka membuat PKB Kepri memiliki peluang besar tampil sebagai kekuatan politik yang tidak hanya hadir saat momentum elektoral, tetapi juga konsisten dalam mengawal isu-isu strategis daerah.
“Ke depan, tantangan PKB bukan hanya memenangkan suara, tetapi memastikan keberpihakan politik yang nyata. Nelayan, pelaku UMKM, pekerja, dan masyarakat pulau terluar harus menjadi basis utama arah kebijakan dan sikap politik PKB Kepri,” tegasnya.
AMI Kepri juga menyoroti fokus Rocky pada konsolidasi struktur hingga tingkat desa sebagai langkah politik fundamental. Kurnia Fajrison menilai, penguatan akar organisasi menjadi kunci bagi PKB untuk memperluas basis elektoral sekaligus memperkokoh legitimasi politik di tengah kompetisi yang semakin ketat.
Lebih jauh, pengalaman Rocky Marciano Bawole memimpin untuk kedua kalinya dinilai sebagai modal strategis dalam memperkuat posisi tawar PKB Kepri di tingkat regional dan nasional. Dengan pemahaman mendalam terhadap dinamika politik kepulauan, PKB diharapkan mampu memainkan peran lebih signifikan dalam mendorong kebijakan pembangunan yang berkeadilan.
“Periode kedua ini adalah ujian politik. Apakah PKB Kepri mampu naik kelas sebagai kekuatan penentu kebijakan, bukan sekadar pelengkap kekuasaan. Dengan pengalaman dan kendali struktur yang kuat, Rocky memiliki peluang besar menjawab tantangan tersebut,” pungkas Kurnia Fajrison.
Dalam konteks politik elektoral, penetapan kepengurusan DPW PKB Kepri periode 2026–2031 dinilai tidak terlepas dari kalkulasi menghadapi Pilkada serentak dan Pemilu 2031. Konsistensi kepemimpinan Rocky Marciano Bawole dipandang sebagai langkah partai untuk memastikan mesin politik bekerja lebih dini, terstruktur, dan terkonsolidasi hingga ke akar rumput.
Kurnia Fajrison menilai, pengalaman Rocky memimpin pada periode sebelumnya memberi keuntungan strategis dalam memetakan basis suara PKB di Kepulauan Riau. Dengan penguasaan struktur hingga tingkat desa dan jaringan kader yang relatif stabil, PKB Kepri disebut memiliki fondasi kuat untuk memperluas pengaruh politik serta meningkatkan perolehan kursi legislatif pada Pemilu 2031.
Selain penguatan internal, periode kedua kepemimpinan Rocky juga dipandang sebagai fase krusial dalam menyiapkan kader dan figur potensial yang dapat diusung PKB, baik dalam kontestasi Pilkada kabupaten/kota maupun Pilkada provinsi. Menurut Kurnia, konsolidasi sejak dini membuka ruang bagi PKB untuk tampil lebih percaya diri, tidak sekadar menjadi partai pendukung, tetapi sebagai pengusung utama kandidat.
AMI Kepri juga melihat, di bawah kepemimpinan Rocky, PKB memiliki peluang memperkuat posisi tawar dalam pembentukan koalisi politik menjelang Pilkada dan Pemilu 2031. Dengan basis massa yang terkelola dan arah politik yang jelas, PKB dinilai berpotensi menjadi salah satu poros penting dalam menentukan peta koalisi dan arah pemerintahan daerah ke depan.
“Jika konsolidasi struktural berjalan konsisten dan keberpihakan politik benar-benar dirasakan masyarakat, maka PKB Kepri berpeluang meningkatkan capaian elektoralnya secara signifikan pada 2031. Ini bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi tentang menjadikan PKB sebagai kekuatan politik yang diperhitungkan dalam setiap kontestasi,” imbuhnya
Dengan kembali dipercayakannya kepemimpinan PKB Kepri kepada Rocky Marciano Bawole, arah konsolidasi internal partai dinilai semakin terstruktur dan berkelanjutan. Ketua AMI Kepri dalam penutupnya mengatakan, soliditas organisasi yang terus dibangun dari tingkat bawah hingga struktural atas menjadi modal penting PKB untuk tampil sebagai kekuatan politik yang tidak hanya diperhitungkan, tetapi juga berpotensi menggeser peta kekuatan politik daerah pada kontestasi mendatang. (*)

