Malam Mencekam di RS Budi Kemuliaan, Tangis Berubah Menjadi Amarah dan Teriakan Balas Dendam Menggema, Pendekatan Humanis Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol Dr. Nona Pricillia Ohei Redam Ratusan Emosi Massa hingga Situasi Kondusif
StrightTimes – Malam itu, Senin 14 September 2026 di Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK) Batam tidak seperti biasanya. Usai kumandang azan Magrib, satu per satu warga berdatangan. Mereka datang dengan wajah tegang, langkah tergesa, dan hati yang dipenuhi kecemasan. Sebagian adalah keluarga, sebagian kerabat, dan sebagian lainnya datang karena ingin memastikan kondisi orang-orang yang mereka kenal.
Di balik pintu ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), beberapa korban bentrokan di kawasan Setokok tengah mendapatkan perawatan intensif. Di luar ruangan, suasana justru semakin panas.
Ratusan massa memadati area rumah sakit. Tatapan mereka menyimpan kesedihan sekaligus kemarahan. Beberapa suara terdengar meninggi. Teriakan demi teriakan pecah di tengah malam yang seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat.
Namun malam itu berbeda. Ada luka yang masih basah. Ada keluarga yang belum sempat menerima kenyataan. Dan ada amarah yang nyaris kehilangan kendali.
Sejumlah anggota kepolisian dari Polda Kepri dan Polsek Lubuk Baja terlihat berjaga di depan pintu ruang IGD. Mereka membentuk barikade pengamanan, memastikan keluarga tetap dapat mengetahui kondisi korban sekaligus menjaga agar suasana tidak berkembang menjadi kericuhan baru.
Dari kejauhan, suara-suara massa semakin terdengar. Sebagian menuntut agar orang-orang yang dianggap bertanggung jawab segera ditangkap. Sebagian lainnya tak mampu menyembunyikan rasa kecewa dan marah setelah melihat kerabat mereka terbaring dengan luka tembak.
Di tengah situasi yang semakin menegangkan itu, dua perwira Polda Kepri tampak berdiri tenang. Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol Dr. Nona Pricillia Ohei, S.I.K., S.H., M.H., bersama Kabid Propam Polda Kepri AKBP Robby Topan Manusiwa, berada di depan ruang IGD bersama sejumlah personel.
Tidak ada gestur berlebihan. Tidak ada suara yang meninggi. Hanya ketenangan yang berusaha dipertahankan di tengah suasana yang hampir pecah.
Sesekali tampak Kombes Nona berbicara dengan sejumlah warga. Ia mendengarkan. Membiarkan mereka menyampaikan keresahan, kemarahan, dan tuntutan yang sejak sore menggumpal menjadi satu. Wajahnya pun tampak terlihat lelah.
Ia tidak memilih berdiri jauh dari situasi. Namun Kombes Nona justru mendekati warga yang emosi.
Satu per satu tokoh masyarakat dan tokoh dari kelompok yang hadir mulai berdatangan. Kehadiran mereka membuat perhatian massa tertuju pada satu titik. Emosi kembali meninggi.
Sebagian massa tampak menunggu sikap dan arahan dari para tokoh tersebut. Pada titik itulah Kombes Nona kembali mengambil langkah.
Ia mendatangi para tokoh satu per satu. Mendatanginya dengan humanis. Ia pun mendengarkan dengan mencoba memahami bahwa kemarahan yang muncul malam itu bukan semata-mata tentang sebuah peristiwa, tetapi tentang keluarga yang melihat orang terdekat mereka terluka dan dua nyawa telah pergi.
Di hadapan mereka, Nona berbicara dengan nada yang tenang. Ia meminta semua pihak menahan diri. Ia meyakinkan keluarga korban bahwa proses hukum tetap berjalan. Aparat kepolisian akan menangani perkara tersebut dan mengejar pihak-pihak yang diduga terlibat.
“Bapak, ibu beberapa pelaku sudah diamankan di Polresta Barelang,” ujar Nona di hadapan massa yang masih diliputi amarah.
Pernyataan itu perlahan membuat suasana lebih terkendali. Nona menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung. Pengejaran terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat terus dilakukan. Tim Reskrim Polresta Barelang bersama Polda Kepri masih bekerja untuk mengungkap rangkaian peristiwa dan motif di balik bentrokan tersebut.
Malam itu, tugas Kombes Nona bukan hanya menyampaikan informasi. Ia juga harus memastikan sebuah amarah tidak berubah menjadi bentrokan baru. Dihatinya mengantisipasi satu percikan saja dapat kembali membakar emosi massa yang sejak sore sudah berada di ujung batas kesabaran.
Di tengah kerumunan massa, wajah Nona terlihat lelah. Namun ia tetap berdiri. Tetap berbicara.
Tetap mendengarkan. Sebab di hadapannya bukan sekadar massa. Di sana ada seorang ibu yang cemas. Ada seorang ayah yang menunggu kabar. Ada saudara yang berharap kerabatnya selamat. Dan ada keluarga yang mungkin malam itu harus menerima kenyataan paling berat dalam hidup mereka.
Pendekatan humanis itu perlahan membuahkan hasil. Suara-suara yang sebelumnya meninggi mulai mereda. Massa yang semula memenuhi area rumah sakit perlahan dapat ditenangkan. Tokoh-tokoh yang hadir ikut membantu mengendalikan situasi.
Malam yang sempat dipenuhi ketegangan itu akhirnya berangsur kondusif.
Bentrokan yang terjadi di kawasan Setokok, Jembatan 3 Barelang, pada Senin (14/9/2026) sore itu menimbulkan duka mendalam. Berdasarkan data sementara, terdapat sembilan korban dalam insiden tersebut. Dua korban meninggal dunia setelah mengalami luka akibat tembakan dan telah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara. Sementara tujuh korban lainnya mengalami luka dan mendapatkan perawatan di sejumlah rumah sakit di Batam.
Tiga korban dirawat di Rumah Sakit Budi Kemuliaan, tiga lainnya mendapatkan perawatan di RS Awal Bros Batuaji, sedangkan satu korban menjalani perawatan di RSUD Embung Fatimah.
Peristiwa tersebut diduga berkaitan dengan konflik lahan dan melibatkan dua kelompok yang disebut-sebut bernama Elang Laut dan Garuda. Bentrokan berlangsung di kawasan Jembatan 3 Barelang, tidak jauh dari Mako Marinir.
Apa yang terjadi di RSBK malam itu menjadi gambaran betapa tipisnya jarak antara duka dan amarah. Keluarga yang melihat orang tercinta terbaring terluka tentu sulit diminta untuk langsung tenang. Karena ketika amarah dibalas dengan amarah, luka tidak akan pernah benar-benar selesai. Itulah yang dilakukan Kombes Nona pada malam itu.
Ia Kombes Nona dapat meredam, mendengarkan, menenangkan massa. Langkah kecil di depan IGD rumah sakit itu mungkin tidak menghapus duka keluarga korban. Namun setidaknya, malam itu, sebuah potensi balas dendam, bentrokan baru dapat dicegah Kombes Nona.
Kini kawasan Setokok mulai kembali tenang. Massa dari kedua belah pihak telah membubarkan diri. Aktivitas masyarakat perlahan kembali berjalan. Dan kini ada keluarga yang masih harus belajar menerima kenyataan bahwa orang yang mereka tunggu tidak akan pernah lagi mengetuk pintu rumah.
Dua nyawa telah pergi. Dua keluarga kehilangan orang yang mereka cintai. Dan sebuah luka panjang harus mereka bawa dalam kehidupan mereka.
Malam itu, di Rumah Sakit Budi Kemuliaan, seorang perwira polisi berpangkat Kombes dengan wajah yang terlihat lelah memilih untuk tetap berdiri di tengah amarah. Bukan karena ia mampu menghapus kesedihan. Tetapi karena ia tahu, di tengah situasi seperti itu, satu kalimat yang salah dapat menyalakan kembali api.
Dan satu pendekatan yang tenang, mungkin dapat mencegah jatuhnya korban berikutnya. Semoga dua korban yang telah meninggal dunia mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan untuk melewati masa-masa berat ini. Dan semoga peristiwa di Setokok menjadi pelajaran bagi semua pihak bahwa tidak ada perselisihan yang pantas dibayar dengan nyawa manusia.

