Di Balik Kesederhanaan “Si Kuli Jurnalis”, Dosen UNIBA Ini Hadir sebagai Pejuang Kemanusiaan bagi Korban Bencana Aceh Tamiang
StrightTimes — Di tengah bencana alam yang menyisakan duka dan kehancuran, nama “si kuli jurnalis” Agus Siswanto Siagian mungkin tak terpampang di baliho bantuan atau tajuk utama media nasional. Namun bagi para korban bencana, kehadirannya adalah cahaya kecil yang menyalakan harapan besar.
Agus kerap menyebut dirinya si kuli jurnalis. Sebutan sederhana itu seolah menutupi fakta bahwa ia juga merupakan dosen Fakultas Hukum (S1) dan Magister Kenotariatan (S2) Universitas Batam (UNIBA). Dorongan untuk berbuat kebajikan dan panggilan nurani sebagai pejuang kemanusiaan membuatnya memilih turun langsung ke lapangan, membantu sesama tanpa pamrih.
Ia bukan tokoh besar dengan fasilitas lengkap atau sumber daya berlimpah. Agus datang dengan apa adanya tenaga yang terbatas, perlengkapan sederhana, namun dengan hati yang penuh empati. Di antara puing-puing rumah dan jerit kesedihan para korban di Aceh Tamiang, ia hadir bukan sekadar sebagai relawan, melainkan sebagai saudara dan sahabat.
“Menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi saudara dalam kesukaran,” demikian kutipan firman Tuhan yang menjadi pegangan hidupnya, tutur Agus.
Pada hari pertama tiba, Jumat (19/12/2025), Agus langsung menyambangi wilayah terdampak paling parah di kawasan Lintang dan Kampung Lunduh, Aceh Tamiang. Ia terlibat dalam evakuasi korban, menyalurkan bantuan bersama rekan-rekan jurnalis dari Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) serta jurnalis lokal Aceh, dan yang tak kalah penting mendengarkan keluh kesah mereka yang kehilangan segalanya.
Berbagai cara ia lakukan demi memberi manfaat. Konsistensi itulah yang membuat peran Agus begitu bermakna. Pria berdarah Batak Toba yang kini menetap di Kota Batam ini larut dalam kebersamaan dengan para penyintas: membersihkan lingkungan, membantu mendirikan hunian sementara, serta menemani anak-anak korban bencana agar kembali tersenyum.
“Kemanusiaan sejati tidak berhenti pada rasa iba, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata dan berkelanjutan,” ujar Agus.
Baginya, bencana alam bukan semata urusan pemerintah atau lembaga tertentu, melainkan tanggung jawab bersama sebagai sesama manusia. Agus membuktikan bahwa satu orang pun dapat membawa perubahan, asalkan memiliki keberanian untuk peduli dan mau turun langsung ke lapangan.
Pada akhirnya, ia mengajarkan bahwa kepahlawanan tidak selalu lahir dari kekuasaan atau popularitas. Kepahlawanan sejati justru tumbuh dari keikhlasan untuk membantu tanpa menunggu pujian.
Di tengah bencana yang melanda Aceh dan Sumatera, Agus Siswanto Siagian menjadi simbol bahwa nilai kemanusiaan masih hidup, dan harapan selalu bisa ditemukan bahkan di tempat yang paling hancur sekalipun.
“Ya Tuhan, ketika alam mengguncang hidup kami, kuatkan hati agar tidak runtuh, jernihkan akal agar tetap bijak, dan lembutkan jiwa agar saling menolong. Sebab Engkau pemilik kehidupan. Kami berserah bukan karena lemah, tetapi karena percaya bahwa setiap cobaan mengandung makna dan setiap luka dapat disembuhkan dengan harapan,” demikian doa yang terpatri dalam hati si kuli jurnalis Agus Siswanto Siagian.

