Ketum PKSS Ahmad Rosano Dorong Edukasi Gen Z Perkuat Literasi Digital dan Wawasan Kebangsaan untuk Menjaga Persatuan di Tengah Arus Informasi Media Sosial
StrightTimes – Ketua Umum DPP Perkumpulan Kekerabatan Sulawesi Selatan (PKSS) Ahmad Rosano mendorong penguatan edukasi bagi generasi Z (Gen Z) dalam menghadapi perkembangan ruang digital yang semakin cepat. Menurutnya, kemampuan memilah, memeriksa, dan memahami informasi menjadi bagian penting dalam menjaga persatuan di tengah maraknya informasi yang beredar melalui media sosial.
Dorongan tersebut disampaikan dalam rangkaian Dialog Wawasan Kebangsaan yang diinisiasi DPP PKSS. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman mengenai nilai-nilai kebangsaan, tetapi juga diarahkan sebagai sarana edukasi literasi digital bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Ahmad Rosano mengatakan Gen Z memiliki posisi strategis dalam membentuk ekosistem informasi di ruang digital. Sebagai generasi yang sangat dekat dengan media sosial, Gen Z tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga menjadi pihak yang turut menentukan bagaimana sebuah informasi berkembang dan diterima masyarakat.
“Media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan generasi muda. Karena itu, edukasi kepada Gen Z sangat penting agar mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi pengguna yang kritis, cerdas, dan bertanggung jawab,” kata Ahmad Rosano. Kamis 13 Agustus 2026.
Menurutnya, kemampuan menggunakan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan memahami informasi. Masyarakat, terutama generasi muda, perlu membiasakan diri memeriksa sumber, mengonfirmasi informasi, memahami konteks, serta membedakan fakta dan opini sebelum menyebarkan sebuah konten.
“Tidak semua informasi yang muncul di media sosial dapat langsung dipercaya. Harus dilihat sumbernya, diperiksa kebenarannya, dan dipahami konteksnya. Jangan sampai kita menjadi bagian dari penyebaran informasi yang belum tentu benar,” ujarnya.
Ahmad menilai literasi digital memiliki kaitan erat dengan wawasan kebangsaan. Informasi yang keliru, provokatif, atau sengaja diproduksi untuk memecah belah dapat dengan mudah menyebar apabila masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk memeriksanya secara kritis.
Karena itu, wawasan kebangsaan di era digital tidak cukup hanya dipahami sebagai konsep mengenai persatuan dan kecintaan terhadap Indonesia. Nilai tersebut juga harus tercermin dalam perilaku masyarakat saat berinteraksi di media sosial.
Kebebasan menyampaikan pendapat, kata Ahmad, harus berjalan bersama tanggung jawab. Setiap informasi yang dibagikan berpotensi memengaruhi orang lain sehingga masyarakat perlu mempertimbangkan kebenaran dan dampaknya sebelum meneruskan sebuah konten.
Melalui Dialog Wawasan Kebangsaan, PKSS ingin mendorong generasi muda agar tidak hanya menjadi pengguna pasif media sosial. Gen Z diharapkan mampu memanfaatkan ruang digital untuk memperluas wawasan, menyampaikan gagasan, menghasilkan konten edukatif, dan ikut membangun suasana sosial yang positif.
Dialog tersebut merupakan sesi kedua setelah sebelumnya digelar di Kota Tanjungpinang. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian program PKSS dalam mendorong penguatan wawasan kebangsaan di tengah masyarakat.
Rangkaian kegiatan selanjutnya dijadwalkan berlangsung di Kampus Politeknik Batam pada 13 Agustus 2026. Sejumlah tokoh dari Kepulauan Riau dijadwalkan hadir untuk membahas berbagai persoalan yang berkaitan dengan wawasan kebangsaan dan tantangan masyarakat di tengah perkembangan ruang digital.
Sejumlah narasumber yang telah mengonfirmasi kehadiran antara lain Prof. Dr. HM. Soerya Respationo, SH, MH, MM. Irjen. Pol. (Purn.) Drs. Yan Fitri Halimansyah MH, YM. Raja Haji Muhamad Amin Ibni Raja Haji Muhamad, Ir. Bambang Hendrawan, ST, M.SM, CIPMP, CISCP Sekretaris Jenderal DPP PKSS H. Masrur Amin, S.H., M.H.
Kegiatan tersebut juga akan disiarkan secara langsung melalui Radio Republik Indonesia (RRI), sehingga pembahasan dapat diikuti tidak hanya oleh peserta yang hadir di lokasi, tetapi juga masyarakat secara lebih luas.
Bagi PKSS, edukasi kepada Gen Z menjadi semakin penting seiring tingginya konsumsi informasi melalui berbagai platform digital. Kemampuan memilah informasi diharapkan dapat mencegah generasi muda mudah terpengaruh maupun ikut menyebarkan konten yang belum terverifikasi.
PKSS juga mendorong generasi muda untuk melihat media sosial bukan hanya sebagai ruang hiburan, tetapi sebagai ruang publik yang membutuhkan etika, tanggung jawab, dan kesadaran kebangsaan.
Semangat persatuan, kata Ahmad Rosano, tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial. Semangat tersebut juga dapat diterapkan melalui tindakan sederhana di ruang digital, seperti memeriksa sumber informasi, tidak terburu-buru membagikan konten, menghargai perbedaan, serta menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.
Dengan penguatan literasi digital dan wawasan kebangsaan, Gen Z diharapkan dapat menjadi generasi yang tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menjaga ruang digital tetap sehat sekaligus berkontribusi dalam memperkuat persatuan bangsa. (*)

