Teungku Jamaica Masuk Bursa Wakil Menteri BUMN, Zaydan Ramli: Harapan Baru dari Ujung Barat Nusantara
Foto :Ketua Permasa Batam, Juanda (kiri), Teungku Jamaica (tengah), Zaydan Ramli, tokoh masyarakat Aceh di Kepri (kanan)
STrightTimes – Nama Syardani M. Syarif, yang lebih dikenal dengan panggilan Teungku Jamaica, kembali bergema dalam panggung nasional. Mantan Juru Bicara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Wilayah Pase itu kini disebut-sebut sebagai salah satu kandidat kuat Wakil Menteri BUMN dalam Kabinet Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka.
Sosok yang dijuluki “Computer Perjuangan” karena kejeniusannya dalam strategi, komunikasi, dan navigasi konflik ini dinilai sebagai figur transformasional seorang pejuang yang tidak hanya meninggalkan jejak di masa konflik, tapi juga terus berkontribusi dalam era damai dan pembangunan Aceh.

Setelah kesepakatan damai Helsinki 2005, Teungku Jamaica memilih jalan transisi dari senjata ke pembangunan. Ia aktif dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat, terutama di sektor ekonomi pesisir dan pertanian rakyat. Salah satu terobosannya yang cukup dikenal adalah Program Toke Tiroem, sebuah inisiatif budidaya tiram di Aceh yang mendorong kemandirian nelayan lokal dan pelestarian lingkungan laut.
Kini, Teungku Jamaica menjabat sebagai Komisioner PT PEMA Global Energi anak usaha Pemerintah Aceh di sektor energi dan migas. Di posisi ini, ia dikenal sebagai figur dengan kapabilitas teknis yang mumpuni, serta memiliki pemahaman menyeluruh mengenai rantai industri energi nasional. Kiprahnya memperkuat citra bahwa tokoh-tokoh lokal Aceh mampu menjadi bagian dari sistem nasional tanpa kehilangan akar perjuangannya.
Dukungan terhadap pencalonan Teungku Jamaica sebagai Wakil Menteri BUMN terus mengalir. Muzakir Manaf (Mualem), mantan Panglima GAM dan Gubernur Aceh terpilih, menyebutnya sebagai komputer perjuangan metafora yang menggambarkan peran strategis dan kecerdasannya dalam mengawal dinamika perjuangan Aceh, dari konflik hingga rekonsiliasi.
Tak hanya di Aceh, suara dukungan juga menggema dari berbagai penjuru Tanah Air. Di Provinsi Kepulauan Riau, Zaydan Ramli, tokoh masyarakat Aceh di Kepri, menyampaikan bahwa keterlibatan putra Aceh dalam Kabinet Merah Putih menjadi simbol rekognisi dari pemerintah pusat terhadap masyarakat Aceh.
“Dengan masuknya Teungku Jamaica, kami berharap pemerintah pusat dalam hal ini Presiden Prabowo benar-benar membuka ruang bagi aspirasi masyarakat Aceh. Selama ini ada kesan kami dianaktirikan. Hadirnya beliau akan menjadi simbol keterwakilan dan jembatan antara pusat dan daerah,” ujar Zayda Ramli.
Tak kurang dari 33 instansi dan organisasi dari berbagai sektor termasuk asosiasi pengusaha migas daerah, jaringan eks kombatan, ormas pemuda Aceh, hingga jaringan diaspora Aceh di Malaysia dan Skandinavia secara terbuka memberikan dukungan terhadap pencalonan Teungku Jamaica. Mereka menilai bahwa tokoh ini bukan sekadar representasi Aceh, melainkan representasi daerah-daerah yang selama ini kurang mendapat ruang dalam peta politik dan ekonomi nasional.
Bagi mereka, pencalonan Teungku Jamaica menjadi momentum untuk mendorong keterwakilan daerah dalam pengambilan kebijakan strategis, terutama di sektor-sektor vital seperti energi, industri, dan BUMN. Pengalaman panjangnya dalam membangun sinergi antara masyarakat akar rumput dengan struktur birokrasi pemerintahan membuat banyak pihak meyakini bahwa ia mampu menjembatani kebutuhan rakyat dengan kebijakan negara. Sosoknya dianggap membawa semangat kolaborasi antara pusat dan daerah, antara pembangunan dan keadilan sosial.
Tak hanya itu, dalam beberapa bulan terakhir sejumlah deklarasi dukungan terus bermunculan dari kampus, komunitas intelektual muda Aceh, dan pelaku UMKM. Mereka menyuarakan harapan bahwa hadirnya Teungku Jamaica dalam kabinet akan menjadi pintu masuk untuk memperkuat peran daerah dalam transformasi BUMN agar tak hanya berorientasi profit, tapi juga berdampak pada kesejahteraan rakyat kecil di seluruh pelosok negeri.
Dukungan yang begitu luas ini menunjukkan bahwa sosok Teungku Jamaica telah melampaui sekat-sekat politik dan identitas lokal. Ia menjadi simbol dari perjuangan panjang daerah untuk mendapatkan tempat setara dalam pembangunan nasional. Kini, harapan itu disematkan kepada Presiden terpilih Prabowo Subianto agar memberikan mandat kepada figur yang telah terbukti membawa perubahan nyata di daerah, untuk turut membangun Indonesia dari pinggiran dari Sabang hingga Merauke.
Dukungan yang terus mengalir ini menjadi cerminan bahwa harapan baru dari ujung barat Nusantara kini tengah tumbuh. Sosok Teungku Jamaica membawa narasi tentang rekonsiliasi, pembangunan berkelanjutan, dan penguatan daerah sebagai pilar dalam membangun Indonesia yang lebih inklusif dan merata.
Kini, mata publik tertuju ke Istana, menanti apakah Presiden terpilih Prabowo Subianto akan benar-benar memberikan ruang bagi “anak-anak perubahan” seperti Teungku Jamaica, untuk mengisi posisi strategis dan membawa semangat daerah ke panggung nasional.











