IPK Kepri Matangkan Penanaman Mangrove HUT IPK di Pantai Vio-Vio Batam 8 September, Alex Simatupang Bawa Rekam Jejak Pelestarian Lingkungan dari Jawa hingga Sumatera
StrightTimes — Ikatan Pemuda Karya (IPK) Kepulauan Riau (Kepri) terus mematangkan persiapan pelaksanaan penanaman mangrove dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) IPK. Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 8 September 2026, di Pantai Vio-Vio, kawasan Barelang, Batam, tersebut dipersiapkan tidak sekadar sebagai agenda seremonial organisasi, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan lingkungan pesisir.
Ketua Panitia, Alex Simatupang, memastikan berbagai persiapan terus dikebut menjelang hari pelaksanaan. Hingga saat ini, kesiapan kegiatan secara keseluruhan disebut telah mencapai sekitar 90 persen. Sejumlah kebutuhan utama di lokasi, termasuk bibit mangrove yang akan ditanam, telah dipersiapkan dan berada dalam tahap finalisasi.
“Persiapan secara keseluruhan sudah mencapai 90 persen. Bibit mangrove di lokasi penanaman juga sudah dipersiapkan,” ujar Alex, Minggu 6 September 2026
Menurutnya, selain memastikan kesiapan bibit dan titik penanaman, panitia juga memberikan perhatian terhadap aspek teknis lainnya agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan tertib dan lancar. Koordinasi dengan berbagai pihak terus dilakukan, termasuk persiapan penyambutan sejumlah tamu dan undangan yang dijadwalkan menghadiri kegiatan tersebut.
Tidak hanya berkutat di lokasi penanaman, panitia juga tengah menyelesaikan pemasangan sejumlah spanduk sebagai bagian dari publikasi kegiatan. Spanduk dipasang di sepanjang jalur mulai dari kawasan Simpang Kepri Mall hingga menuju kawasan Barelang. Pemasangan tersebut disebut hampir seluruhnya rampung dan ditargetkan selesai sebelum hari pelaksanaan.
“Kami perkirakan sebelum hari H pada Selasa, 8 September, sudah selesai semua,” kata Alex.
Nama Alex Simatupang sendiri bukan sosok yang asing dalam kegiatan pelestarian lingkungan hidup. Sebelum terlibat dalam kegiatan penanaman mangrove HUT IPK ini, Alex telah memiliki pengalaman panjang dalam berbagai gerakan penghijauan dan kepedulian terhadap lingkungan. Ia pernah dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal NGO AMPHIBI (Aliansi Masyarakat Peduli Lingkungan) periode 2020–2023.
Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam mempersiapkan kegiatan penanaman mangrove di Batam. Bagi Alex, gerakan penghijauan tidak cukup hanya dilakukan dengan menanam pohon, tetapi membutuhkan komitmen untuk menjaga dan memastikan tanaman tersebut dapat tumbuh serta memberikan manfaat bagi lingkungan dalam jangka panjang.
Selama bergiat bersama AMPHIBI, Alex juga tercatat terlibat dalam sejumlah kegiatan lingkungan berskala besar. Bahkan, beberapa kegiatan yang diikutinya berhasil mencatatkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI), termasuk kegiatan penanaman mangrove di atas sampah dan penanaman mangrove hingga kedalaman 100 meter di kawasan Pantura atau Pantai Utara Jawa.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan pelestarian lingkungan yang digagas tidak berhenti pada slogan. Berbagai program yang pernah dijalankan menyasar persoalan lingkungan secara langsung, mulai dari rehabilitasi kawasan pesisir hingga penghijauan wilayah yang mengalami degradasi lingkungan.
Jejak kegiatan Alex juga tercatat dalam program penghijauan bantaran Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL). Selain itu, ia turut terlibat dalam penghijauan kawasan Jalan Transyogi yang menghubungkan Cibubur–Jonggol, Jawa Barat. Berbagai pengalaman tersebut membuat kiprahnya dalam kegiatan lingkungan tidak hanya terbatas pada satu wilayah atau satu jenis ekosistem.
Gerakan penghijauan kemudian berlanjut ke Pulau Sumatera. Bersama Koordinator Satgas Ekologi Sumatera Utara, Pastor Walden Sitanggang, Alex turut bergerak dalam upaya penghijauan kembali kawasan Hutan Lindung Tele, Kabupaten Samosir. Kawasan tersebut sebelumnya mengalami kerusakan akibat aktivitas pembukaan hutan yang berdampak terhadap kondisi ekosistem setempat.
Di kawasan Pusuk Buhit, Samosir, yang memiliki nilai penting dalam sejarah dan budaya masyarakat Batak, Alex juga dipercaya sebagai Project Director Penghijauan Pusuk Buhit. Program tersebut dilakukan bersama Yayasan Pusuk Buhit dengan mendorong penghijauan melalui penanaman ribuan pohon, di antaranya pohon mangga dan alpukat.
Kini, pengalaman panjang tersebut dibawa ke Batam melalui kegiatan penanaman mangrove di Pantai Vio-Vio Barelang. Kawasan pesisir menjadi perhatian karena mangrove memiliki fungsi penting dalam menjaga garis pantai, menjadi habitat berbagai biota, sekaligus membantu melindungi kawasan pesisir dari ancaman abrasi dan tekanan lingkungan.
Penanaman mangrove tersebut menjadi salah satu rangkaian peringatan HUT IPK. Namun lebih jauh, kegiatan itu diharapkan mampu membangun kesadaran bahwa peringatan hari jadi organisasi juga dapat diwujudkan melalui kegiatan yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat dan lingkungan.
Panitia juga mempersiapkan penyambutan Wakil Gubernur Kepulauan Riau yang dijadwalkan hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadiran unsur pemerintah diharapkan dapat semakin memperkuat pesan bahwa pelestarian lingkungan pesisir membutuhkan kolaborasi antara organisasi masyarakat, pemerintah, komunitas lingkungan, serta masyarakat secara luas.
Alex bersama panitia berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar dan mendapat dukungan dari berbagai pihak. Lebih dari sekadar menanam bibit dan menyelesaikan sebuah agenda, kegiatan tersebut diharapkan menjadi awal dari gerakan berkelanjutan untuk menjaga kawasan pesisir Batam. Sebab, pohon yang ditanam hari ini mungkin belum memberikan hasil dalam waktu singkat, tetapi kelak dapat menjadi benteng alami yang manfaatnya dirasakan oleh generasi mendatang.

