Ramali Padang Angkat Bicara Terkait Sopo Godang, Minta Permasalahan Diselesaikan Secara Kekeluargaan Demi Persatuan Lima Etnis Batak di Batam
StrightTimes – Ramali Padang selaku perwakilan Etnis Pakpak Sumtera Utara akhirnya angkat bicara terkait polemik pembangunan dan status kepemilikan Sopo Godang atau yang juga dikenal dengan sebutan Sapo Isena Basa di Kota Batam. Dalam keterangannya kepada awak media ini, Kamis, (28/06/2026).
Ramali menegaskan bahwa bangunan tersebut sejak awal dibangun untuk kepentingan bersama seluruh etnis Batak yang ada di Batam.
Menurut Ramali, Sopo Godang bukanlah milik pribadi maupun kelompok tertentu, melainkan merupakan aset bersama yang berada di bawah naungan yayasan. Ia menyebut, keberadaan bangunan tersebut sejak awal diproyeksikan sebagai simbol persatuan dan tempat berkumpulnya masyarakat lintas etnis Batak di Kota Batam.
“Sopo Godang ataupun Sapo Isena Basa itu setahu saya merupakan milik yayasan. Dulu saya juga ikut membangun gedung tersebut, bahkan sempat diberikan wewenang untuk membantu proses pembangunan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pembangunan gedung tersebut telah direncanakan sejak beberapa tahun lalu melalui komunikasi bersama sejumlah tokoh, salah satunya tokoh senior bernama Sabar Malau, Sahat Sianturi, Onward Sihaan, Nutrin Sialoho, Ipan Siregar, Rustam Efendi Bangun, Beny Panjaitan, Gembira Ginting, Jasarmen Purba, Asron Lubis, Jumaga Nadeak, Almarhum Belius Hasibuan, Almarhum Robert Siahaan, Joler Sitorus, Bob Sitorus dan Bu Aida ismet, Saat itu, kata Ramali, dirinya dipercaya untuk membantu pengerjaan bangunan yang dirancang sebagai rumah besar kebersamaan masyarakat Batak di Batam.
Ramali mengungkapkan, proses pembangunan kala itu sempat berjalan hingga tahap tiang dan atap. Namun karena adanya sejumlah kendala, pembangunan tidak dapat dilanjutkan hingga selesai dan akhirnya terbengkalai sampai sekarang.
Meski demikian, dirinya mengaku bersyukur apabila saat ini muncul kembali niat dan rencana untuk melanjutkan pembangunan ataupun memperbaharui bangunan tersebut agar dapat difungsikan sebagaimana mestinya.
“Kalau memang sekarang ada rencana untuk membangun kembali ataupun memperbaiki gedung itu, saya secara pribadi sangat setuju,” tegasnya.
Namun, Ramali memberikan catatan penting bahwa keberadaan Sopo Godang yang saya dengar harus tetap dipertahankan sebagai milik bersama di bawah yayasan Ise Nabasa dan tidak boleh dikuasai oleh pihak tertentu. Menurutnya, semangat awal pendirian bangunan tersebut adalah untuk mempersatukan seluruh etnis Batak yang ada di Batam.
Ia menyebut sedikitnya ada lima unsur etnis besar yang sejak awal menjadi bagian dari kebersamaan tersebut, yakni Batak Toba, Simalungun, Pakpak, Tapanuli Selatan, dan Karo. Kelima etnis itu, kata dia, memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga persatuan dan keberlangsungan fungsi bangunan tersebut.
Ramali menegaskan, Sopo Godang sejatinya bukan hanya sekadar bangunan fisik, tetapi simbol persaudaraan, tempat musyawarah, dan wadah budaya masyarakat Sumatera Utara, khususnya lintas etnis Batak yang hidup dan berkembang di Kota Batam.
Menurutnya, apabila bangunan itu nantinya selesai dan dapat dipergunakan kembali, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh satu kelompok saja, melainkan seluruh masyarakat Sumatera Utara yang berada di perantauan.
Dalam kesempatan itu, Ramali juga mengajak seluruh tokoh yang namanya tercantum dalam yayasan untuk duduk bersama mencari solusi terbaik atas persoalan yang selama ini muncul. Ia berharap segala bentuk kesalahpahaman maupun persoalan internal dapat diselesaikan melalui musyawarah dan semangat kekeluargaan.
“Kami berharap para tokoh yang ada di yayasan bisa duduk bersama. Kalau memang ada persoalan, mari dibicarakan baik-baik supaya semuanya jelas dan ada jalan keluarnya,” ujarnya.
Ia juga menyinggung kemungkinan adanya persoalan pembiayaan maupun sangkutan-sangkutan tertentu yang hingga kini belum terselesaikan. Namun menurut Ramali, persoalan tersebut tidak boleh menjadi alasan munculnya perpecahan di tengah masyarakat Batak di Batam.
“Kalau memang ada urusan pembiayaan ataupun hal-hal lain yang menjadi kendala, mari kita bicarakan secara terbuka supaya bisa diselesaikan bersama dan tidak menimbulkan dampak yang tidak baik terhadap yang lain,” katanya.
Ramali menilai masyarakat Batak di Batam selama ini dikenal sebagai komunitas yang besar, kuat, serta disegani. Karena itu, ia berharap persoalan internal seperti ini tidak sampai berkembang menjadi konflik berkepanjangan yang justru merusak nama baik masyarakat sendiri di mata publik.
Menurutnya, penyelesaian persoalan harus dilakukan secara internal dan penuh kebijaksanaan, tanpa harus membuka ruang perpecahan yang dapat dimanfaatkan pihak luar.
“Kita ini orang Batak di Batam cukup banyak, cukup dikenal dan disegani. Maka dari itu, jangan sampai masalah ini membawa dampak buruk terhadap persatuan kita sendiri,” ucapnya.
Sebagai perwakilan Etnis Pakpak, Ramali berharap generasi tua maupun generasi muda dapat kembali dipersatukan untuk melanjutkan cita-cita awal pembangunan Sopo Godang sebagai rumah besar bersama masyarakat Sumatera Utara di Batam.
Ia juga mengingatkan bahwa lahan yang dahulu diberikan oleh Pak Ismet semasa menjabat Ketua Otorita Batam kepada Lima Etnis Batak yang kemudian dibentuk yayasan Isena Basa yang diketuai Sabar Malau dan Pak Johanes Kenedy hendaknya dapat difungsikan sebagaimana tujuan awalnya, yakni menjadi pusat kebersamaan, budaya, dan persaudaraan lintas etnis.
“Mudah-mudahan orang-orang tua kita maupun kalangan muda bisa kembali duduk bersama agar lahan yang diberikan kepada Isena Basa dapat difungsikan sebagaimana mestinya demi kebersamaan kita semua,” tutup Ramali Padang.
Dengan adanya pernyataan tersebut, Ramali berharap polemik terkait Sopo Godang tidak lagi menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi momentum untuk memperkuat kembali persaudaraan lima etnis Batak di Kota Batam demi menjaga nilai budaya dan persatuan di tanah perantauan.

