Diundang ke Istana pada Upacara HUT ke-81 RI, Ketum PKSS Ahmad Rosano Sampaikan Aspirasi Penguatan PSPB, PMP, dan P4 ke Presiden RI
Foto: Tangkapan Layar Ketum PKSS Mengikuti Upacara HUT RI ke 81 di Istana Negara
StrightTimes — Ketua Umum Perkumpulan Kekerabatan Selatan (PKSS), Ahmad Rosano, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya setelah mendapat undangan dari Kementerian Sekretariat Negara untuk menghadiri Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara, Senin (17/08/2026) di Istana Negara.
Menurut Ahmad Rosano, kehadiran dalam peringatan hari kemerdekaan di Istana bukan sekadar sebuah kehormatan pribadi, tetapi juga menjadi momentum untuk melihat secara langsung arah pembangunan bangsa sekaligus menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pemerintah.
“Kami bangga sebagai orang Indonesia karena negara ini sedang melakukan perubahan. Bagi kami, kemerdekaan bukan hanya sebuah perayaan, tetapi bagaimana kemerdekaan itu benar-benar memberikan manfaat bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujar Ahmad.
Ia menilai, semangat pembangunan yang tengah didorong Presiden Prabowo Subianto harus ditempatkan dalam kerangka amanat konstitusi, khususnya Pasal 33 UUD 1945. Menurutnya, kekayaan alam Indonesia yang meliputi bumi, air, serta berbagai sumber daya alam di dalamnya harus dikelola sebesar-besarnya untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
Rosano mengatakan, Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan luar biasa, baik dari sisi sumber daya alam maupun keberagaman masyarakatnya. Indonesia terdiri atas ribuan pulau, ratusan kelompok etnis, serta ratusan bahasa daerah. Keragaman tersebut, menurut dia, merupakan kekuatan besar sekaligus tantangan yang membutuhkan kepemimpinan dan komitmen kebangsaan yang kuat.
“Bangsa Indonesia adalah bangsa besar dan bangsa kepulauan terbesar di dunia. Membangun Indonesia yang begitu luas dan beragam tentu bukan pekerjaan yang mudah. Karena itu, diperlukan kepemimpinan yang memiliki kecintaan terhadap bangsa dan rakyat,” katanya.
Rosano meyakini Presiden Prabowo memiliki komitmen untuk mengabdikan dirinya bagi kepentingan bangsa dan negara. Ia berharap momentum HUT ke-81 RI menjadi tonggak penting bagi Indonesia untuk semakin mengarahkan seluruh kekuatan pembangunan kepada kepentingan rakyat.
Menurutnya, pembangunan nasional tidak cukup hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik. Pendidikan, karakter, moral, etika, serta penguatan persatuan dan kesatuan bangsa harus menjadi bagian penting dari agenda pembangunan nasional.
Dalam kesempatan tersebut, Rosano juga menyampaikan sejumlah kegiatan yang telah dilakukan Perkumpulan Kekerabatan Sulawesi Selatan (PKSS) dalam membangun wawasan kebangsaan dan memperkuat persatuan masyarakat Indonesia.
Ia menjelaskan, PKSS sebelumnya telah menyelenggarakan dialog wawasan kebangsaan di Johor Bahru, Malaysia, pada 2024. Kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, dan yang ketiga digelar di Kota Batam pada 13 Agustus 2026.
Dialog di Batam menghadirkan sejumlah tokoh dan narasumber dari berbagai latar belakang. Di antaranya Prof. Dr. Soerya Respationo, SH, MH, Irjen Pol (Purn.) Drs Yan Fitri Alimansyah, MA, unsur Lembaga Adat Melayu (LAM) Batam, praktisi hukum H. Masrur Amin, SH, MH, serta pimpinan dari lingkungan pendidikan tinggi dan Politeknik Negeri Batam.
Kegiatan tersebut, katanya, menjadi ruang untuk membicarakan berbagai persoalan kebangsaan sekaligus menggali gagasan dari tokoh masyarakat, akademisi, praktisi hukum, dan unsur pemerintahan.
Dialog itu juga mendapat perhatian dan dukungan dari berbagai pihak. Kegiatan dibuka oleh Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Nyanyang Haris Pratamura, dan menjadi bagian dari rangkaian upaya PKSS untuk terus mendorong diskusi mengenai masa depan kebangsaan.
“Dari dialog tersebut muncul aspirasi yang sangat kuat dari para tokoh dan masyarakat. Mereka meminta agar aspirasi itu disampaikan kepada Presiden,” ujar Rosani.
Dorong Kembalinya Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa
Salah satu aspirasi utama yang muncul dalam dialog wawasan kebangsaan tersebut adalah perlunya penguatan kembali pendidikan sejarah perjuangan bangsa di lingkungan pendidikan.
Rosano mengatakan, masyarakat menginginkan agar materi mengenai Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) kembali mendapat perhatian dalam sistem pendidikan nasional.
Menurut dia, pemahaman sejarah perjuangan bangsa sangat penting bagi generasi muda agar mereka mengetahui perjalanan panjang Indonesia dalam mencapai kemerdekaan, memahami pengorbanan para pendahulu, serta memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“PSPB perlu mendapatkan perhatian kembali. Generasi muda harus memahami bagaimana bangsa ini dibangun, bagaimana para pendiri bangsa berjuang, dan bagaimana kemerdekaan yang kita nikmati hari ini diperoleh dengan pengorbanan yang luar biasa,” tuturnya.
Pendidikan Moral Pancasila dan P4 Dinilai Perlu Diperkuat
Selain PSPB, Ahmad juga menyampaikan aspirasi agar Pendidikan Moral Pancasila (PMP) kembali diperkuat dalam pendidikan nasional.
Ia juga mengusulkan agar nilai-nilai yang dahulu disampaikan melalui Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) dapat dihadirkan kembali dalam bentuk yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Menurut Rosano, substansi pendidikan Pancasila bukan sekadar menghafal sila-sila Pancasila, tetapi bagaimana nilai-nilai tersebut benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menilai pendidikan karakter yang berlandaskan Pancasila penting untuk membentuk generasi yang memiliki moral, etika, rasa hormat, toleransi, dan kesadaran untuk menjaga persatuan.
“Kalau memungkinkan, nilai-nilai P4 juga perlu diperkenalkan kembali di tingkat sekolah dasar maupun sekolah menengah dengan metode yang sesuai dengan perkembangan zaman. Yang terpenting adalah bagaimana generasi mendatang tidak kehilangan adab dan moral dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya.
Ditegaskannya, penguatan pendidikan kebangsaan bukan berarti membawa pendidikan kembali ke masa lalu, melainkan mengambil nilai-nilai positif yang masih relevan untuk menjawab tantangan zaman.
Menurutnya, generasi yang memahami sejarah perjuangan bangsa, Pancasila, serta nilai-nilai persatuan akan memiliki fondasi yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai perubahan sosial dan perkembangan teknologi.
Menjaga Generasi Muda dari Provokasi dan Perpecahan
Rosano juga mengaitkan pentingnya pendidikan kebangsaan dengan tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini. Arus informasi yang sangat cepat, khususnya melalui media sosial, membuat masyarakat mudah memperoleh informasi, tetapi sekaligus rentan terhadap informasi yang tidak benar, provokasi, dan narasi yang dapat memecah belah.
Karena itu, pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan, menurutnya, harus menjadi benteng bagi generasi muda.
“Orang yang memiliki pemahaman sejarah perjuangan bangsa, Pancasila, moral, dan nilai-nilai persatuan akan memiliki pegangan. Mereka tidak mudah terprovokasi oleh keadaan atau informasi yang berkembang,” ujarnya.
Ia berharap pendidikan nasional ke depan tidak hanya menghasilkan generasi yang unggul secara akademik dan teknologi, tetapi juga generasi yang memiliki karakter, adab, integritas, serta kecintaan terhadap bangsa dan negara.
Aspirasi Telah Disampaikan kepada Presiden
Ahmad menegaskan, seluruh aspirasi yang berkembang dalam rangkaian dialog wawasan kebangsaan PKSS akan dirangkum telah disampaikan kepada pemerintah, khususnya Presiden Prabowo melalui staf nya.
Ia mengatakan, aspirasi tersebut merupakan suara dari tokoh masyarakat dan peserta dialog yang melihat pentingnya penguatan kembali pendidikan kebangsaan di tengah perubahan zaman.
“Ini yang kami laporkan. Ada permintaan dari tokoh-tokoh masyarakat agar pemerintah memberikan perhatian terhadap PSPB, PMP, dan nilai-nilai P4. Ini bukan semata-mata kepentingan organisasi, tetapi aspirasi yang muncul dari masyarakat,” katanya.
Terakhir ia berharap pemerintah dapat mempertimbangkan gagasan tersebut dalam kebijakan pendidikan nasional, tentunya dengan menyesuaikan materi dan metode pembelajaran dengan kebutuhan generasi saat ini.
Ia menilai, pembangunan bangsa harus berjalan secara seimbang. Kemajuan ekonomi dan teknologi harus diiringi dengan pembangunan manusia yang berkarakter, beradab, berintegritas, dan memiliki rasa cinta tanah air.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga persatuan dan tidak mudah terpecah oleh perbedaan. Keberagaman merupakan bagian dari identitas Indonesia yang harus dirawat bersama. Perbedaan suku, bahasa, budaya, maupun latar belakang tidak boleh menjadi alasan untuk saling menjauhkan diri.
“Indonesia ini besar karena persatuannya. Karena itu, kita harus menjaga persatuan dan kesatuan. Pendidikan, adab, moral, sejarah perjuangan bangsa, dan nilai-nilai Pancasila harus terus menjadi fondasi bagi generasi berikutnya,” katanya.
Ahmad kembali menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Sekretariat Negara atas undangan untuk menghadiri Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Istana Negara.
Ia berharap momentum tersebut menjadi awal semakin kuatnya komitmen seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama membangun Indonesia yang maju, berdaulat, sejahtera, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila serta jati diri bangsa.
“Semoga kemerdekaan ke-81 ini menjadi momentum bagi kita semua untuk membangun Indonesia yang lebih baik, menjadikan kepentingan rakyat sebagai prioritas, memajukan pendidikan, dan tetap menjaga adab serta karakter bangsa,” pungkasnya.

